PERJUANGAN SEORANG HAMBA

“ Kehidupan ibarat roda yang berputar. Terkadang kita berada pada posisi atas, namun tak menutup kemungkinan pula kita berada di tempat yang paling. Seseorang yang sering mengalami hal-hal baik menurutnya belum tentu selamanya akan menjadi baik begitu pula sebaliknya. Semua tergantung dari kemauan dan usaha yang kita lakukan untuk mencapai yang kita inginkan…” itulah perkataan yang selalu ku ingat dari seorang murabbi (kakak mentor) ku semasa duduk dibangku SMP.

Aku terrlahir dari sebuah keluarga yang cukup berada. Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua saudaraku semuanya laki-laki. Sejak kecil aku sudah terbiasa berpenampilan bak anak laki-laki. Aku sering mengikuti gaya mereka mulai dari berpakaian, hobi, dan bertingkah laku seperti mereka. Sehingga aku sangat terkenal di sekolah ku dangan sebutan gadis tomboy. Ayahku adalah seorang pengusaha sedangkan ibuku adalah wanita karir. Mereka jarang mempunyai waktu untuk berbincang-bincang denganku. Meskipun demikian mereka sangat sayang denganku. Apapun yang aku inginkan pasti diberikan oleh mereka. Aku sering mengisi kebosananku dengan dengan menghabiskan uang yang diberikan ayah untuk pergi ke mall bersama teman-teman. Aku banyak menghabiskan waktu luangku untuk bersenang-senang. Kebiasaan itu sering ku lakukuan hingga aku jah dari agama. Keluargaku adalah penganut agama Islam, akan tetapi bisa dikatakan agama kami hanya sekedar islam KTP. Shalatpun aku jarang. Maksimal hanya dua waktu yang ku kerjakan. Itulah sekilas tentang diriku sejak aku kecil hingga duduk dibangku kelas tiga SMP.

***

Pada pertengahan semester kelas tiga SMP, aku pernah mengikuti acara pesantren Ramadhan yang diadakan di sekolahan. Awalnya aku sangat bosan mengikuti kegiatan tersebut. Tapi apa boleh buat? Aku mengikutinya denga terpaksa karena diwajibkan dari sekolah. Kalau tidak mengikutinya aku tidak bisa mengikuti ujian praktik agama dan ijazah ku akan ditahan oleh pihak sekolah.

” Eh…..Tan, aku bosen nih!!! Disini cuma dengerin ceramah aja.”  keluh salah satu teman akrab ku, Shinta.

” Iya…bener tuh…aku juga bosen disini terus.” sahut Tia.

” Udah deh, daripada kalian bosen lebih baik kita pergi aja ke mall. Tapi jangan sampai ketahuan sama guru. Gimana setuju gak?” ajak Citra salah satu dari teman akrabku juga.

” Boleh juga tuh… kamu ikut gak Tania?” Tanya Shinta.

” Hmm… gimana ya? Aku juga bosen sih, tapi…” perkataanku terputus dan berhenti sejenak. ” tapi aku lagi malas jalan ke mall. Lagi pula kalau ketahuan sama guru kita bisa mendapatkan masalah lagi. Terakhir kali kita buat masalah sama mereka baru kemarin kan? Itu juga gara-gara kita mau kabur ke mall juga. ” jelas ku.

Spontan teman-teman ku terkejut dan heran dengan perkataan ku.

” Hah…aku tidak salah dengar tuh? Seorang Tania yang yang terkenal pintar bikin masalah sekarang jadi penakut begini?! Kamu kok jadi aneh sih..?” ucap salah satu temanku dengan nada suara yang tinggi.

” Bukannya begitu, hari ini aku lagi malas untuk jalan-jalan. Lagi pula aku capek sekali nih gara-gara kemarin malam pergi sama kalian. Kalau kalian bosen dengerin ceramahnya, lebih baik tidur aja.”

” Ya sudahlah. Kalau itu mau mu. Kita bertiga pergi dulu ya…” ujar Tia.

Mereka bertiga langsung pergi menuju guru piket untuk meminta izin dengan alasan mau berobat. Sekarang aku sendiri, teman-temanku sudah pergi. Aku bingung mau bergabung dengan siapa. Sedangkan disini tidak ada yang akrab denganku. Disini adalah perkumpulan orang-orang yang berkerudung panjang. Sedangkan aku hanya memakai sehelai selendang yang ku pakai untuk menutupi sebagian rambut. Dari kecil aku tidak pernah memakai kerudung. Orang tuaku tidak pernah menyuruhku apalagi membelikan kerudung untukku.

Hari semakin siang. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Kini saatnya semua siswa dan siswi berkumpul bersama kelompoknya yang telah dibentuk kemudian membentuk lingkaran atau bahasa gaulnya yang sering diucapkan anak-anak rohis dengan sebutan halaqoh. Kami dibimbing dengan seorang kakak mentor.  Sembari menunggu waktu dzuhur kami sharing-sharing bersama ka’Indah. Sayangnya badanku masih terasa lelah dan mata ini tidak sanggup lagi menahan rasa kantuk.

” De, anti kenapa?” tanya ka’Indah dengan nada yang lembut.

” Huaaahhh…. tidak apa-apa kok kak, aku cuma sedikit ngantuk.” jawabku sambil menutupi mulutku yang sejak tadi terus menguap.

” Ya sudah sekarang anti wudhu’ saja supaya rasa kantuknya hilang. Setelah itu akan kakak lanjutkan ceritanya.”

Akupun langsung beranjak dari tempat duduk ku menuju tempat wudhu’. Setelah itu aku kembali ke masjid dan mendengarkan cerita dari ka’Indah. Usai ia bercerita kini saatnya aku bergantian menceritakan pengalamanku. Setelah semuanya mendapatkan giliran untuk bercerita, ka’Indah menyimpulkan semua ceritanya kemudian ia menasihati kami dan memberikan motivasi kepada kami. Entah mengapa setiap kata demi kata yang ku dengar darinya sangat menyentuh kedalam lubuk hatiku. Belum pernah ada orang yang sangat perhatian denganku. Meskipun banyak orang-orang yang dekat denganku akantetapi mereka hanya bisa memanfaatkanku saja dan tidak memahami sebenarnya yang aku cari.

Semenjak aku mengikuti kegiatan Sanlat dan bertemu dengan seorang kakak mentor yang siap membimbing aku, aku menjadi terdorong untuk merubah sikapku sedikit demi sedikit tingkah laku ku yang seperti laki-laki. Orang-orang yang berada dilingkungan sekitarku sangat heran dengan perubahan yang terjadi pada diriku. Aku telah memutuskan dan menetapkan hatiku untuk menjadikan kerudung sebagai pakaian yang ku pakai setiap hari. Sebuah keputusan yang besar dalam hidupku untuk mengenakan kerudung. Aku merasakan perbedaan yang terjadi dalam diriku. Banyak orang yang mengomentari penampilanku terutama keluarga dan teman-teman dekatku. Teman-temanku menjauh karena aku tidak seperti dulu lagi. Ternyata mereka berteman denganku hanya mencari kepopularitasan saja. Mereka tidak mau dikatakan ”ngga gaul” karena berteman denganku yang sekarang ini. Betapa teririsnya hatiku saat mengetahiu orang-orang yang ku anggap sahabat ternyata hanya memanfaatkan ku saja. Ya sudahlah, biarkan mereka pergi toh aku bisa mencari teman untuk dijadikan sahabat.

Lebih menyedihkan lagi keluargaku sendiri tidak setuju denga keputusanku ini. Aku merasa terasingkan dikeluarga ini. Situasi dalam rumah menjadi dingin. Ku coba untuk mencairkan situasi ini dengan sebuah sapaan lembut kepada ibuku.

” Selamat pagi ma…”sapaku. Ibuku tampak terdiam dan tidak menghiraukan keberadaanku.  Aku mencoba untuk bertanya kepadanya.

” Wah, pagi ini mama sedang masak apa?” kelihatannya lezat sekali.” ia pun masih terdiam dan tidak mau mengucapkan sepatah kata untuk ku. Ku coba untuk bertanya kembali.

” Mama kok diam saja sih dari tadi?!” ucap ku dengan nada tinggi, ” Sebenarnya apa salah ku? Mengapa seisi rumah ini bersikap dingin kepadaku?”

Akhirnya ibu  pun mau membuka mulutnya dan berkata kepada ku.

” Tania, mama tidak suka dengan perubahan kamu saat ini. Ibu tidak ingin anak ibu ikut-ikutan ajaran sesat.” tukas ibu.

” Astagfirullah…….” spontan aku terkejut mendengar  ucapan dari ibuku. Tak ku sangka ternyata ibuku  mengira aku telah ikut dalam aliran sesat.

” Jika kamu tidak sefera melepaskan penutup kepala mu itu, jangan harap kamu mendapatkan perhatian dari mama, papa dan juga kedua kakak mu”

Mendengar kata-kata dari ibu ku hatiku terasa tertusuk jarum. Ku tinggalkan ia dan pergi menuju kamarku. Disana aku meangis sejadi-jadinya. Aku tak menyangka akan seperti ini akibatnya. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan selain mengadu kepada-Nya. Ku coba untuk menenangkan hatiku yang sedang pilu dengan membaca Al-Qur’an. Meskipun aku belum lancar membacanya tapi terus ku coba untuk merangkai huruf demi huruf agar aku dapat menghilangkan rasa pilu ini.

Lima bulanpun berlalu begitu cepat. Aku terus menjalankan aktivitas ku dan mempertahankan prinsip ku sebagai muslimah. Ujian Nasionalpun telah ku jalani dengan baik. Aku lulus dengan hasil yang terbaik diantara teman-teman satu angkatan. Meskipun demikian, prestasi ini tidak ada artinya  bagiku jika keluarga ku tidak bangga dengan kesuksesan ini. Di malam yang sunyi dengan berhiasan bintang-bintang di langit, aku bermunajat kepada-Nya agar di bukakan pintu hati bagi keluarga ku untuk menerima aku kembali dan mudah-mudahan mereka di berikan petunjuk ke jalan yang benar. Aku berharap saat aku di wisuda besok, aku dapat melihat keluarga ku hadir dan menyaksikan aku telah lulus dari bangku SMP.

Hari yang ku tunggupun tiba. Aku bersiap-siap menaiki tangga panggung untuk menerima penh\ghargaan atas prestasiku. Tak ku lihat kehadiran salah satu dari keluarga ku yang menyaksikan momen ini. Setelah usai acara wisuda, tiba-tiba ku rasakan seseorang menepuk bahuku dari belakang, saat ku menolehkan kepala ku, ku lihat papa, mama dan kakak-kakak ku datang unutk memberikan ucapan selamat. Mereka sangat bangga dengan prestasi ku dan berjanji akan taat dalam menjalankan ibadah kepada-Nya serta mendukung aku untuk berkerudung. Aku bahagia sekali mendengar perkataan dari mereka. Akupun tidak lupa untuk memanjatkan puji syukur kepada-Nya. Kebahagiaan ini datang karena atas kehendak Sang pencipta.

” Subhanallah…….walhamdulillah……walaailaahailallah……wallahu akbar………”



SEBUAH PRINSIP

Wajah Ibu sangat muram akhir-akhir ini. Tapi aku mulai terbiasa dengan hal itu, setelah empat pekan sudah kami melewati masa-masa krisis dalam keluarga kami ini. Korban kedua yang harus menanggung derita ini setelah yang pertama Ibu ku, adalah kelima kakakku. Mereka terpaksa berhenti dari sekolah lantaran demi keselamatan mereka. Kak Ibeng pernah nekat masuk ke sekolah, padahal ketika itu namanya sudah dihapus dari daftar siswa disekolahnya. Bukan ilmu yang ia dapat, baru lima langkah keluar dari pintu rumah, keningnya sudah berdarah-darah dilempari kerikil oleh orang-orang yang lalu lalang didepan rumah kami. Saat itu, aku kembali melihat wajah muram ibu, bahkan kini ibu menangis sambil mengobati Kak Ibeng yang meringkih kesakitan. Kak Rani yang hendak pergi saat itupun mengurungkan niatnya. Ibu menyuruhnya meletakkan kembali tas compang-campingnya.

Kali ini keributan hampir terjadi setiap malam. Kini kawan Kak Ridwan, Aswar,   kedapatan sedang mengenakan kaos bertuliskan PKI yang ia temukan kemarin sore di pinggir rel kereta api, saat sedang bermain. Lantas ia pun ditangkap oleh Polisi. Warga kisruh malam itu, ada yang menuduhnya ikut PKI, adapula yang membelanya termasuk keluarganya, tapi ada pula yang hanya diam, karna takut keesokan hari polisi mendatangi rumah mereka lalu menuduh mereka memiliki kaitan dengan Aswar yang dituduh sebagai anggota PKI. Hal semacam itulah  yang terjadi pada Bapak.

Keluarga kami cukup mapan, bahkan bisa dikatakan sangat mapan saat itu. Disaat orang-orang baru memiliki rumah dengan dinding berbilik, rumah kami sudah terbangun dengan tembok batako. Betapa gedongnya rumah kami saat itu. Tapi toh, kemapanan itu akhirnya menyeret bapak dalam tuduhan menjadi wartawan luar negri yang menjadi simpatisan PKI. Kini kami harus menelan bulat-bulat kenyataan pahit yang menimpa hidup kami. Ibu bilang, bapak hanya dipenjara, dan tak akan lama. Tapi aku sendiri tak yakin dengan ucapan Ibu. Hingga detik inipun kami sekeluarga belum tahu apakah bapak masih hidup atau sudah mati. Tak ada kabar semenjak penggrebekan rumah sebulan yang lalu. Yang harus kami lakukan adalah mengikhlaskan kepergian bapak, sejak awal ditangkap. Karna, mengharapkan tahanan PKI pulang kembali, sama dengan mengharapkan sesuatu yang tak pasti. “Syukur-syukur jasadnya ditemukan di sungai bersama tumpukan jasad lainnya” begitulah yang dikatakan orang-orang mengenai bapak. Aku hanya bergidik ngeri, mengingat cerita orang-orang.

***

Malam akan selalu menjadi saksi bisu bagi kesedihan kami sekeluarga, disaat mulut tak lagi bisa berucap, atau ucapan tak lagi didengar. Diam-diam aku merindukan bapak, dengan beberapa tetesan air mata sebagai persembahan ku untuknya, yang menandakan bahwa aku tak memiliki daya dan upaya untuk melepaskan rinduku kepada bapak, begitupun Ibu, juga kelima kakakku.

Mata Ibu terbelalak bukan main. Urat-urat lehernya nampak tegang. Keningnya bercucuran keringat. Belakangan ini aku sering mengetahui kalau Ibu selalu terjaga setiap malam, sebelum azan subuh. Setiap itu pula Ibu selalu mengendap-endap keluar rumah, untuk memeriksa kotak surat yang sering didapatinya kosong, tak sepucuk suratpun. Tapi kali ini tidak. Ibu bergegas masuk kedalam rumah setelah membuka kotak surat yang terletak persis di atas tembok pagar depan rumah kami. Aku mendengar Ibu merobek sebuah amplop, dan ibu mulai membuka surat yang ada didalamnya.

Kepada adik ku tercinta

Sri astuti

Di

Rawamangun

Lama kita tidak jumpa. Aku sangat merindukanmu, juga kami keluarga besar. Maafkan aku karna baru membalas surat mu yang kau kirim dua minggu yang lalu.

Pertama-tama, aku ingin memberitahu bahwa ayah telah tiada, sejak dua tahun yang lalu. Saat beliau meniggal, aku ingin sekali memberitahu kau, tapi aku tak tahu kau ada dimana. Karna kau tak pernah memberitahu kami sekeluarga, dimana tempat tinggalmu, sejak kau pergi dari rumah.

Jujur, aku sangat terkejut dengan berita yang kau sampaikan mengenai keadaan keluargamu saat ini.  Sudah ku katakan Ishak bukanlah lelaki baik-baik. aku sangat menyesali sikap mu yang memilih pergi dari rumah hanya untuk menjadi perawat sukarela korban perang, dan memutuskan  untuk menikah dengan Ishak. Lelaki yang kini akan menghabiskan hidupnya selama bertahun-tahun di dalam jeruji besi. Tapi sudahlah, aku tak ingin memikirkan itu. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan kau dan kelima anakmu. Bagaimanapun juga, mereka tetap keponakanku.

Aku sangat ingin membantumu, hari senin, 10 Desember 1965, di belakang pasar, sebelum matahari terbit, aku akan mengirimkan orang yang akan menjemputmu dan anak-anakmu dengan sebuah mobil. Aku sudah membicarakan semua tentang kau kepada keluarga besar, dan mereka bersedia menerima kau kembali juga kelima anakmu. Ku pikir jika kau kembali kepada kami, kehidupanmu dan kelima anakmu akan terjamin. Mungkin hanya bantuan ini yang dapat ku berikan. O..ya, Jangan lupa, kau harus menunjukan identitasmu sebagai umat kristiani. Karna aku tidak bilang kepada keluarga besar soal keislamanmu.

Salam rindu,

wina

***

“Oh, tidak…apa yang harus saya lakukan” ibu bimbang seketika. Semua permasalahan kini merasuki pikirannya. Mengenai meninggalnya kakek, kesempatan untuk pergi dari sini, juga keputusannya untuk kembali memeluk agama yang pernah ia tinggalkan. Bayang-bayang wajah bapak hadir dibenaknya, jugs terhadapkata-katanya. ”kita tak boleh pasrah, apalagi menyerahkan segala permasalahan pada keadaan”. Ibu kembali membaca dengan seksama isi surat yang berada di tangannya.

“Senin, 10 Desember 1965 ?!!!” Ibu tersentak ketika membaca bagian terpenting dari surat yang berada ditangannya. Ibu baru tersadar bahwa hari ini adalah hari yang dimaksud dalam surat tersebut, begitupun tanggal dan tahunnya. Seketika itu, ibu segera memutuskan hal yang sangat membuat bapak marah, bila mengetahuinya. Mengikuti aturan main yang ditentukan oleh bibi Wina, termasuk mengenai pindah agama.

Ibu bergegas membangunkan kelima kakak ku, juga aku yang saat itu berpura-pura tidur. Jam dinding menunjukan pukul 04.15. Waktu subuh masuk sekitar pukul 04.30, dan kami hanya punya waktu sekitar 15 menit sebelum adzan subuh, karna tak mungkin bagi kami keluar dengan membawa banyak barang saat orang-orang terbangun untuk sholat ke Masjid, tentu akan sangat mencurigakan. Suka tak suka, tapi 15 menit inilah yang akan menentukan kami untuk keluar dari rumah ini, dan meninggalkan semua kehidupan kami dirumah yang sejak kelahiran kak Ridwan, kami tempati.

“Cepat bangun!!! bereskan pakaian kalian semua !” teriakan ibu lebih mirip suara teriakan yang sengaja dipelankan. Karna Ibu tak ingin membangunkan para tetangga dengan jerit kepanikannya.  Awalnya kami tak mengerti apa yang terjadi, kami pikir akan ada keributan lagi yang dibuat warga. Sehingga kak Diana menangis ketakutan.

“Sst…sst…” Ibu menempelkan jari telunjuk di bibirnya. “Diam, dengarkan ibu, kita harus pergi dari sini sekarang. Kita akan tinggal dengan bibi kalian. Supaya kalian dapat sekolah lagi. Kita tak punya banyak waktu, jadi segera kemasi pakain kalian.”

Aku yang saat itu berumur lima tahun, hanya bisa diam tak mengerti dengan apa yang terjadi. Yang kutahu Ibu menyematkan kalung salib pertama kali kepadaku, dan kepada kelima kakak ku. Kak Ibeng sempat menolak dan melemparkan kalung salib yang telah ibu sematkan di lehernya.

“Oh..demi Jesus Kristus, ibu mohon, pakailah nak!” pinta Ibu memelas. Kak Ibeng terkejut dengan perkataan Ibu barusan. Tapi ia pasrah, ketika untuk keduakalinya Ibu memakaikan kalung itu di lehernya. Rasa iba dan tak tega muncul ketika ia menatap sebuah ruang hampa kesedihan di dalam mata ibu yang  berwarna cokat.

“Ridwan???” mata Ibu berkeliaran ke setiap sudut kamar, Ibu mencari-cari sosok kak Ridwan.

“Dimana Ridwan?!” tanya Ibu kepada Kak Ibeng. Saat itupun terdengar suara adzan subuh. Ibu semakin panik dan bertanya untuk kedua kalinya kepada Kak Ibeng, kini sambil mengguncang-guncangkan tubuh Kak Ibeng.

“Dia…di…rumah ustadz Faiz” mendengar perkataan Kak Ibeng, ibu segera berlari keluar rumah menuju rumah Ustadz Faiz yang berjarak tiga rumah dari rumah kami. Belum sampai Ibu di rumah Ustadz Faiz, Ibu berpapasan dengan Ustadz faiz dan kak Ridwan di jalan. Saat itu mereka sedang menuju Masjid. Ibu langsung menarik tangan kak Ridwan tanpa berkata apapun.

“Ibu, apa yang terjadi?” Ibu hanya diam tanpa kata. Ustadz Faiz terus mengikuti langkah Ibu dan kak Ridwan, hingga mereka sampai di belakang pasar.Aku dan keempat kakak ku yang sudah menunggu di pasar terlebih dahulu merasa lega atas kehadiran Kak Ridwan. Saat itu ibu mengenakan kalung salib kepada Kak Ridwan. Barulah kemarahan kak Ridwan meledak disana. Saat tahu bahwa kami sekeluarga harus menggadaikan agama demi keluar dari kehidupan yang cukup lama telah menginjak-injak kami.

“Ibu mengerti kalau kau tak mau melakukan ini. Tapi ibu hanya minta kau memakai kalung ini, Nak.”

“tidak !!! aku tak sudi menukar agama ku dengan apapun itu, sekalipun ibu hanya memintaku untuk menggadaikannya sesaat!!!” sebuah tamparan mengenai pipi Kak Ridwan yang tiba-tiba diam tak berkata. Ibu begitu luka ketika dengan mudahnya kak Ridwan mengatakan hal itu. Saat itu sebuah mobil berhenti di sebrang jalan, seorang supir memperhatikan gerak-gerik kami. Ketika itu Ibu tahu bahwa itulah seseorang yang dikirim bibi Wina untuk menjemput kami. Hari semakin pagi, fajar shidiq perlahan hilang, dan kini matahari sebentar lagi akan terbit. Tanpa berpikir panjang Ibu menarik tangan Kak Ridwan dan memaksanya untuk segera meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum kami sampai di seberang jalan, orang-orang yang sedang membuka lapak-lapak mereka di pasar mulai kisruh dan melihat gerak-gerik kami, cara berpakaian kami, dan beberapa tas besar yang kami bawa sebagai hal yang mencurigakan. Kak Ridwan tiba-tiba melepaskan genggaman tangan Ibu.

“HEH MAU KEMANA ORANG PKI… ?!!!” teriak salah satu warga. Keadaan mulai panas. Warga mulai menimpuki kami dengan kerikil-kerikil. Tapi hal tersebut tidak membuat kak Ridwan ikut bersama kami yang terus berlari menuju mobil. Ia malah lari menjauh dari kami menuju kerumunan orang-orang yang menimpuki kami dengan kerikil. Tak ada pilihan lain, supir segera melarikan mobil menjauhi tempat itu, dan meninggalkan kak Ridwan sendirian dalam kerumunan. Saat itu aku melihat Ibu meneteskan air mata ketidakberdayaannya.

***

Aku meratapi sebuah makam di depanku. Ku sentuh tanah kubur kak Ridwan yang ada dihadapanku untuk yang pertama kalinya. Semua bayangan masa kecil ku yang baru ku hadirkan kembali, telah membuat ku merasa semakin bangga karna pernah memiliki seorang kakak seperti kak Ridwan.

“Aku bangga padamu, karna kau tidak memilih jalan untuk menggadaikan agamamu, sekalipun hanya sesaat demi mencari kebahagiaan dunia. Maafkan aku karna aku baru menyadari sebuah kebenaran disaat usiaku telah lanjut, bahwa takkan ada yang sanggup membayar harga sebuah keimanan, sekalipun hanya untuk digadaikan.” Aku menyeka butiran air mata yang membasahi pipiku, dan segera berdiri menuju pemakaman ayah dan ibu.

***